Abstract

Hingga saat ini belum ditemukan obat terkait infeksi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), sehingga organisasi dunia dan pemerintah Indonesia menggalakkan pemberian vaksin untuk menurunkan penyebarannya. Setelah pemberian vaksinasi, dapat muncul beberapa Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang menandakan vaksin telah bekerja. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran KIPI yang terjadi setelah pemberian vaksinasi COVID-19 berdasarkan jenisnya pada karyawan di Rumah Sakit BMC Bangli.


Rancangan penelitian adalah cross-sectional dengan jenis observasional. Penelitian melibatkan 250 sampel yang memenuhi kriteria inklusi (karyawan yang memperoleh vaksinasi COVID-19) serta kriteria eksklusi (tidak bersedia menjadi responden) yang dilaksanakan pada bulan Desember 2022. Analisis data dilakukan dengan menghitung persentase dengan bantuan software Microsoft Excel lalu dipaparkan dalam bentuk tabel.


Karakteristik demografi responden didominasi perempuan (80,00%), berusia 26-30 tahun (48,40%), bekerja sebagai perawat (45,20%) dan berat badan <75kg (92,80%). Mayoritas responden tidak memiliki alergi obat ataupun makanan (100,00%), tanpa riwayat komorbid (99,60%) dan tidak terinfeksi COVID-19 sebelumnya (92,00%). Jenis vaksin yang dominan digunakan pada dosis pertama dan kedua adalah Sinovac (71,60%; 53,20%), dosis ketiga yaitu Moderna (94,80%) serta dosis keempat yaitu Moderna (59,20%). Gambaran KIPI yang banyak dialami berupa pegal di area suntikan (88,80%), nyeri di area suntikan (82,80%) dan bengkak di area suntikan (59,20%). Waktu munculnya KIPI adalah 1 jam setelah vaksinasi (15,64%) dengan durasi kejadian paling banyak selama 1 hari (15,92%) serta penanganan yang dilakukan dengan obat parasetamol (16,16%). Hasil tersebut memberikan gambaran bahwa vaksin COVID-19 yang beredar aman digunakan serta mayoritas KIPI yang terjadi setelah pemberian vaksin tidak parah dan memberikan perlindungan terkait infeksi.