Abstract

Intisari


Dalam praktik kefarmasian, waktu tunggu pelayanan resep menjadi salah satu masalah yang sering terjadi karena menimbulkan ketidaknyamanan pada pasien. Waktu tunggu tersebut menjadi salah satu indikator yang potensial untuk mengukur mutu pelayanan suatu sarana kefarmasian seperti apotek seperti yang tertuang dalam Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Tujuan penelitian ini, yaitu untuk mengetahui waktu tunggu pelayanan resep racikan dan faktor yang mempengaruhinya pada salah satu apotek di Gianyar, Bali. Penelitian observasional dengan rancangan cross-sectional ini menggunakan data sekunder dengan jumlah sampel sebanyak 154 lembar resep racikan yang diperoleh selama bulan April-Mei 2020. Selanjutnya, data dianalisis secara sederhana dalam bentuk persentase dan rerata untuk menggambarkan karakteristik sosiodemografi dan waktu tunggu pelayanan resep racikan, sedangkan perbedaan waktu tunggu pada setiap tahapan pengerjaan resep dan standarnya dianalisis dengan uji statistika Kruskall Waliis dan Mann-Whitney U test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata lama waktu tunggu pelayanan resep racikan di apotek “X” Gianyar adalah 9,62 menit. Waktu tersebut jauh lebih cepat dari SPO apotek dan standar pelayanan kefarmasian di apotek (p<0,05). Selain itu, di antara tahapan pelayanan resep, didapatkan bahwa tahapan peracikan memiliki waktu yang paling panjang dibandingkan tahapan lainnya (p<0,05). Demi menjaga konsistensi mutu pelayanan kefarmasian tetap baik, maka faktor lainnya seperti evaluasi SPO secara berkala, ketersediaan sumber daya manusia (SDM) dan obat, sarana dan prasarana apotek yang memadai dibutuhkan dalam upaya menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan resep.