Abstract

Obat herbal diyakini memiliki efek samping yang sedikit, biaya yang relatif murah dan aksesibilitas tinggi. Di negara-negara Asia saat ini, sekitar 25% dari pengobatan mengandung herbal, dan proporsi ini meningkat menjadi 30% dan hingga 50% khususnya di Cina Andrographis paniculata (Nees) atau sambiloto termasuk keluarga Acanthaceae yang sebagian besar tersebar di daerah tropis Negara-negara Asia seperti India, Indonesia, Sri Lanka, Pakistan, dan Malaysia. Sambiloto mengandung senyawa mayor diterpenoid lakton yaitu andrografolid. Senyawa andrografolid dilaporkan memiliki peran pada aktivitas anti inflamasi. Seiring berjalannya waktu, obat-obatan herbal digunakan sebagai pengobatan alternatif (CAM) dengan atau tanpa sepengetahuan praktisi medis. konsumsi bersamaan dapat menyebabkan potensi interaksi (herb-drug interaction) yang menyebabkan efek sinergis atau antagonis. Penggunaannya pun sering bersamaan atau berjarak waktu yang dekat dengan obat-obatan anti inflamasi sintetik. Sehingga Penting untuk diketahui potensi interaksi herbal-obat antara andrografolid sebagai agen anti inflamasi dengan obat-obatan anti inflamasi sintetik non steroid terhadap profil farmakokinetika. Interaksi farmakokinetik melibatkan penyerapan, distribusi, metabolisme dan ekskresi, semuanya terkait dengan kegagalan pengobatan atau terjadinya toksisitas. Beberapa penelitian telah dilaporkan terkait interaksi sambiloto (senyawa andrografolid) dengan beberapa obat anti inflmasi non steroid seperti ibuprofen, naproxen, dan meloxicam. Parameter farmakokinetika yang umum dipengearuhi terhadap pemberian herbal dan obat antiinflmasi non steroid yaitu bioavailibilitas, distribusi jaringan, waktu paruh (t1 / 2), konsentrasi plasma maksimum (Cmaks), dan waktu untuk mencapai Cmaks (Tmaks), AUC, clearance (CL). Perubahan parameter farmakokinetika menyebabkan variasi pada efek terapeutiknya.


Kata Kunci: Interaksi Farmakokinetika, Andrografolid, NSAID