Abstract

Guna menjamin mutu dan keamanan sediaan farmasi yang sampai ke tangan pasien, standar pelayanan kefarmasian wajib dilaksanakan salah satunya pada tahap penyimpanan. Penyimpanan bertujuan untuk menjaga kualitas sediaan farmasi, mencegah penggunaan yang tidak bertanggung jawab, mencegah kehilangan dan pencurian, serta memudahkan pencarian dan pengawasan. Penyimpanan yang tidak baik dapat merugikan rumah sakit karena penggunaan anggaran rumah sakit yang cukup besar untuk pengelolaan sediaan farmasi sehingga pelaksanaanya perlu diukur untuk evaluasi, pencegahan dan perbaikan yang harus dilakukan oleh IFRS. Indikator penyimpanan yang diukur adalah kesesuaian jumlah nyata dengan kartu stok, nilai obat kedaluwarsa/rusak dan obat mengalami stok mati kemudian hasilnya dibandingkan dengan nilai standar. Apabila hasil memenuhi nilai standar, maka penyimpanan telah terlaksana dengan baik. Kajian penyimpanan di rumah sakit diperlukan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan, melakukan pengawasan serta pengendalian; dan perbaikan guna meminimalisir kerugian bagi suatu instansi dan menjaga mutu dan keamanan sediaan farmasi hingga digunakan oleh pasien.